patalogi praktikum


BAB I
PENDAHULUAN

Benih dikatakan sehat kalau benih tersebut bebas dari pathogen, baik berupa bakteri, cendawan, virus maupun nematoda. Patogen adalah suatu kesatuan hidup yang dapat menyebabkan penyakit. Sedangkan patogenisitas adalah kemapuan relatif dari suatu patogen untuk menyebabkan penyakit. Penyakit yang ditimbulkannya kemungkinan dapat terjadi pada kecambah, tanaman muda ataupun tanaman yang telah dewasa.
Banyak jasad renik yang terbawa oleh benih bersifat fatogenetik. Penyakit yang ditimbulkan oleh jasad renik tersebut dapat menyerang benih, kecambah, tanaman muda maupun tanaman dewasa. Usaha tani harus menggunakan benih yang bebas dari jasad renik yang bersifat fatogenetik untuk mencegah atau mengurangi gangguan penyakit tersebut.
Semua golongan patogen seperti cendawan, bakteri, virus, dan nematoda dapat terbawa oleh benih. Hal ini dapat terjadi karena benihnya telah terinfeksi atau kerena kontaminasi pada permukaan benih. Kebanyakan patogen yang terbawa benih menjadi aktif segera setelah benihdisebar atau disemaikan. Sebagai akibatnya benih menjadi busuk atau terjadi damping off sebelum atau sesudah benih berkecambah.
Patogen yang terdapat pada benih memerlukan keadaan lingkungan yang berbeda agar dapat tumbuh dan menghasilkan spora. Oleh sebab itu kondisi lingkungan pada waktu pengujian kesehatan benih harus dibuat sedemikian rupa sehingga dapat merangsang pertumbuhan patogen. Hal sangat penting agar patogen tersebut dapat diidentifikasi, terutama patogen yang terdapat dalam benih. Berbagai metode pengujian yang telah ada, mempunyai kepekaan dan kemungkinan untuk diulang dengan metode yang berbeda.



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Bengkuang atau bengkoang (Pachyrhizus erosus) dikenal dari umbi (cormus) putihnya yang bisa dimakan sebagai komponen rujak dan asinan atau dijadikan masker untuk menyegarkan wajah dan memutihkan kulit. Tumbuhan yang berasal dari Amerika tropis ini termasuk dalam suku polong-polongan atau Fabaceae. Di tempat asalnya, tumbuhan ini dikenal sebagai xicama atau jícama. Orang Jawa menyebutnya sebagai besusu.
Bengkuang merupakan liana tahunan yang dapat mencapai panjang 4-5m, sedangkan akarnya dapat mencapai 2m. Batangnya menjalar dan membelit, dengan rambut-rambut halus yang mengarah ke bawah.
Daun majemuk menyirip beranak daun 3; bertangkai 8,5-16 cm; anak daun bundar telur melebar, dengan ujung runcing dan bergigi besar, berambut di kedua belah sisinya; anak daun ujung paling besar, bentuk belah ketupat, 7-21 × 6-20 cm.
Bunga berkumpul dalam tandan di ujung atau di ketiak daun, sendiri atau berkelompok 2-4 tandan, panjang hingga 60cm, berambut coklat. Tabung kelopak bentuk lonceng, kecoklatan, panjang sekitar 0,5 cm, bertaju hingga 0,5 cm. Mahkota putih ungu kebiru-biruan, gundul, panjang lk. 2 cm. Tangkai sari pipih, dengan ujung sedikit menggulung; kepala putik bentuk bola, di bawah ujung tangkai putik, tangkai putik di bawah kepala putik berjanggut. Buah polong bentuk garis, pipih, panjang 8-13 cm, berambut, berbiji 4-9 butir.
Tumbuhan ini membentuk umbi akar (cormus) berbentuk bulat atau membulat seperti gasing dengan berat dapat mencapai 5 kg. Kulit umbinya tipis berwarna kuning pucat dan bagian dalamnya berwarna putih dengan cairan segar agak manis. Umbinya mengandung gula dan pati serta fosfor dan kalsium. Umbi ini juga memiliki efek pendingin karena mengandung kadar air 86-90%. Rasa manis berasal dari suatu oligosakarida yang disebut inulin (bukan insulin!), yang tidak bisa dicerna tubuh manusia. Sifat ini berguna bagi penderita diabetes atau orang yang berdiet rendah kalori.
Umbi akarnya berwarna putih, berbentuk gasing, kulitnya mudah dikupas. Perbanyakan tanaman dilakukan dengan stek batang, umbi, maupun biji. Bengkuang banyak dibudidayakan di Jawa dan Maduraa, di dataran rendah.
Untuk memperoleh umbi yang baik bunga harus selalu dibuang. Setelah satu sampai tiga minggu ditanam, biji mulai berkecambah. Pada beberapa varietas seperti bengkuang gajaha, bengkuang sudah dapat dipanen ketika berusia empat sampai lima bulan. Tetapi, ada yang dipanen sampai berusia tujuh bulan yaitu bengkuang badur. Umumnya, bengkuang dipanen ketika berumur enam sampai sebelas bulan.
Sifat kimiawi dan efek farmakologis tanaman bengkuang adalah manis, dingin, sejuk, dan berkhasiat mendinginkan. Kandungan kimianya adalah pachyrhizon, rotenon, avitamin B1. Bagian yang digunakan sebagai obat adalaha akar atau umbi, biji, dan tangkai.
Bengkuang bisa digunakan untuk pemakaian obat luar dan dalam. Untuk pemakaian luar, bengkuang secukupnya dihaluskan lalu ditempelkan pada bagian tubuh yang sakit. Pada pemakaian dalam, bengkuang dikupas kulitnya lalu dibuat masakan sesuai selera lalu dimakan.
Mengatasi penyakit kulit, biji bengkuang dan belerang (masing-masing secukupnya) dihaluskan lalu ditempelkan pada bagian tubuh yang sakit. Jika mengidap diabetes, satu atau dua bengkuang diparut lalu disaring dan diminum setiap pagi dan malam hari.
Sebagai obat demam, umbi bengkuang dikupas kulitnya lalu dibuat manisan dan dimakan. Mengatasi eksim, umbi bengkuang dikupas kulitnya dan dimakan secara langsung. Lakukan secara rutin empat kali seminggu. Mengatasi wasir, satu buah bengkuang dijus lalu diminum tiap bangun tidur pagi.
Umbi bengkuang biasa dijual orang untuk dijadikan bahan rujak, asinan, manisan [2], atau dicampurkan dalam masakan tradisional seperti tekwan. Umbi bengkuang sebaiknya disimpan pada tempat kering bersuhu 12 °C hingga 16 °C. Suhu lebih rendah mengakibatkan kerusakan. Penyimpanan yang baik dapat membuat umbi bertahan hingga 2 bulan.
Walaupun umbinya dapat dimakan, bagian bengkuang yang lain sangat beracun karena mengandung rotenon, sama seperti tuba. Racun ini sering dipakai untuk membunuh serangga atau menangkap ikan, terutama yang diambil dari biji-bijinya.
Meski beracun, biji bengkuang pun dapat dijadikan bahan obat. Biji yang ditumbuk dan dicampur dengan belerang digunakan untuk menyembuhkan sejenis kudis. Sementara, di Jawa Tengah, setengah butir biji bengkuang dapat digunakan sebagai obat urus-urus. Keracunan biji bengkuang biasanya diatasi dengan meminum air kelapa hijau.

BAB III
BAHAN DAN METODE

3.1 Waktu Dan Tempat
PraktikumpatologibenihdilakukandilaboratoriumMikologiJurusan Hama danPenyakitTumbuhandanRumahKawatFakultasPertanianUniversitasAndalas Padang yang dilakukandaribulanFebruari s/d Bulan Mei 2010.
3.2 BahandanAlat
Bahan yang digunakandalampraktikumpatologibenihadalahbijibingkuang yang terserang pathogen, alcohol, aquadest, medium PDA, Natriumhipokhlorit 1 %, air, tanahsteril.
Sedangkanalat yang digunakandalampraktikuminiadalahPetridist, gelasukur, kertassaring, gunting, plot, saringanteh, pingset, incubator, Bunsen.
3.3 Cara kerja
3.3.1 Metode Blotter
            Disiapkanbijibingkuang, kemudiandirendamdalamlarutannatriumhipokhlorit 1 % selama ± 5 menit, kemudiandicucidenganlarutanaquadestlalutiriskan. Siapkanpetridist yang didalamnyasudahdiberikertassaringsebanyak 3 lembar, dilembabkandenganaquadest, kemudianbiji yang ditiriskandisusundi dalampetridistsebanyak 10 bijidenganulangan 18 kali ulangan. Kemudiandiinkubasiselama 1 minggudandiamatibagaimanaperkembang pathogen padabenihtersebut.
3.3.2 PembiakanPada media PDA
            Disiapkanbijibingkuang, kemudiandirendamdalamlarutannatriumhipokhlorit 1 % selama ± 5 menit, kemudiandicucidenganlarutanaquadestlalutiriskan. Siapkanpetridist yang didalamnyasudahdiberi medium PDA, kemudianbiji yang ditiriskandisusun di dalampetridistsebanyak 10 bijidenganulangan 18 kali ulangan di lakukan di dalaminkubator.Kemudiandiinkubasiselama 1 minggudandiamatibagaimanaperkembang pathogen padabenihtersebut.
3.3.3 Metode Growing on test (Media Tanah Dalam seed bed)
            Disiapkanbijibingkuang, kemudiandirendamdalamlarutannatriumhipokhlorit 1 % selama ± 5 menit, kemudiandicucidenganlarutanaquadestlalutiriskan, siapkan plot yang berisitanahsterilsebanyak 2 buah, ditanambijibingkuansebanyak 20 bijitiapplotnyadenganpanjang 5 bijidanlebarnya 4 biji, 1 minggukemudian di amatibagainamaberkembangandaribijitersebut.



HASIL DAN PEMBAHASAN
A.    Hasil
Ada beberapa jamur yang ditemukan pda benih bengkuang dengan 2 metoda yang digunakan diantaranya :
a.      Metoda blotter
v  Aspergillus niger
v  Aspergillus flavus
v  Rhizopus
Pada metoda blotter ini ada perlakuan dibuat pada 18 petri dish, pada masing-masing petri dish berisi 10 biji bengkuang.  Data pertumbuhan jamur adalah sebagai berikut :
Petri
Jumlah biji terserang
1
10
2
2
3
8
4
8
5
10
6
6
7
8
8
10
9
10
10
6
11
2
12
6
13
5
14
4
15
5
16
10
17
5
18
6

b.      Media agar
v  Aspergillus niger
v  Aspergillus flavus
v  Rhizoctonia
v  Batryodiplodia theobromae
Uji kesehatan benih dengan metoda growing on test (media tanah dalam seed bed) yang diperlakukan pada benih bengkuang tidak memperlihatkan gejala serangan penyakit pada benih yang tumbuh hanya saja tidak semua benih yang tumbuh, sampai pada minggu ke dua. Benih yang tumbuh berjumlah 7 buah, 3 pada plot A dan 4 pada plot B. benih yang tumbuh terlihat sehat.
c.       Metode growing on test (media tanah dalam seed bed)
Pada metoda ini didapatkan data sebagai berikut :
§  Pengamatan minggu pertama setelah penanam
v   Senin, 21 Mei 2010 sampai Selasa, 24 Mei 2010
       Belum ada benih yang tumbuh
v  Rabu, 25 Mei 2010
Sudah ada benih yang tumbuh, 1 buah pada masing-masing kotak.
Kenampakan pada benih :
·   Berwarna hijau
·   Munculnya 2 calon daun yang belum kembang (masih kuncup).
·   Tinggi benih ± 3 – 4 cm
·   Benih tampak sehat.


§  Pengamatan minggu ke 2 penanaman
Pengamatan minggu ke 2 setelah penanam ini dilaksanakan pada hari Jumat, 5 Juni 2010. Pada saat ini, terlihat ada 7 benih yang tumbuh, 3 pada plot A dan 4 pada Plot B. tinggi dari bibit yang tumbuh ini.

B.        Pembahasan
Ø  Metoda blotter
Dari praktikum yang telah kami lakukan memnperlihatkan 5 petri dish dengan % serangan 100 %, yaitunya pada petri 1, 5, 8, 9 dan 16. Jamur yang ditemukan adalah Aspergillus flavus dan Aspergillus niger.

a.   Aspergillus flavus
Serangan Aspergillus flavus pada benih dapat dilihat dengan adanya pertumbuhan jamur berwarna hijau pada permukaan benih seperti yang dapat dilihat pada gambar.

 Permukaannya terlihat kasar karena bagian atas dari jamur ini membentuk kotak spora


Ø  Bentuk mikroskopis dari jamur Aspergillus flavus
Berwarna hijau yang merupakan kotak spora dari jamur
                                     Hifa berwarna bening

b.      Aspergillus niger
Benih yang terserang Aspergillus niger pada permukaan benih berwarna kecoklatan dan terlihat kasar.
1.      Bentuk makroskopis
          permukaan benih terlihat berwarna kehitaman




2.      Bentuk mikroskopis
Berwarna cokelat sampai cokelat gelap dengan hifa be-
warna bening
                                                                            Hifa

c.    Rhizopus
Jamur ini juga tumbuh pada permukaan atas dari benih yang berwarna putih. Kami tidak menemukan dengan jelas dalam bentuk mikroskopisnya.


                      
Persentase serangan dari jamur dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
                     % serangan = jumlah biji terserang : jumlah biji yang diamati x 100%
Jadi, di dapatlah data persentase serangan sebagai berikut :
petri
% serangan
1
100%
2
20%
3
80%
4
80%
5
100%
6
60%
7
80%
8
100%
9
100%
10
60%
11
20%
12
60%
13
50%
14
40%
15
50%
16
100%
17
50%
18
60%

             Jadi, dapat disimpulkan bahwa serangan jamur terparah terlihat pada petri 1, 5, 8, 9 dan 16.


Ø  Media PDA
Jamur yang ditemukan pada benih bengkuang yang disolasi pada media PDA adalah Aspergillus niger, Aspergillus flavus, Rhizoctonia, Batryodiplodia theobromae.
1.   Batryodiplodia theobramae
Ditemukan tumbuh pada salah satu benih bengkuang yang dibiakan pada media PDA. Jamur ini berwarna putih keabua-abuan dengan permukaan yang halus seperti beludru.
2.   Rhizoctonia solani
Permukaan dari jamur ini berwarna putih dan lembut seperti beludru. Apabila dilihat secara mikroskopis, jamur ini dapat ditentukan dengan percabangan hifanya yang tegak lurus.  Tapi saat ini, kami belum dapat memastikan bahwa jamur ini adalah Rhizoctonia karena kami tidak dapat melihat dengan jelas bentuk mikroskopisnya. Untuk memastikannya dapat dilakukan pembiakan terhadap jamur ini untuk mendapatkan hasil mikroskopis yang lebih baik.
3.      Aspergillus niger
l
4.      Aspergillus flavus
        

Ø  Metode growing on test (media tanah dalam seed bed)
Berdasarkan praktikum yang telah dilaksanakan didapatkan bahwa sampai pada minggu ke 2 setelah penanaman terdapat 7 benih yang tumbuh, yaitunya 3 pada plot A dan 4 pada plot B.
Pengamatan dilakukan setipa hari, pada minggu pertama hanya 1 benih yang tumbuh yaitunya pada plot A. benih yang tumbuh terlihat berwarna hijau dengan tinggi sekitar ± 3-4 cm. benih tersebut sudah memunculkan 2 calon daun yang belum. Belum terlihat pada benih tersebut adanya gejala serangan penyakit.
Pada minggu ke dua, tepatnya pada hari Jumat, 5 Juni 2010 ada 7 benih yang tumbuh. Tingginya sudah mencapai ± 6-7 cm dan rata-rata memiliki 3 sampai 4 helai. Pada benih  yang tumbuh ini tidak terlihat adanya serangan penyakit.
Benih yang tidak tumbuh menunjukkan adanya serangan jamur. Pada benih tersebut terlihat adanya jamur berwarna putih. Akibat dari serangan jamur ini, menyebabkan benih tersebut menjadi rapuh dan bagian dalam dari jamur menjadi rusak. Kami belum dapat menentukan apa jenis jamur yang menyerang benih ini. Pada benih-benih yang tidak tumbuh tersebut juga terlihat serangan larva lalat buah. Serangan dari larva lalat buah menyebabkan benih menjadi lembek, ini diduga disebabkan karena aktifitas larva di dalam benih.






















PENUTUP

A.    Kesimpulan
Ada beberapa jamur yang mampu tumbuh pada benih bengkuang diantaranya Aspergillus niger, Aspergillus flavus, Rhizopus, Rhizoctonia, Batryodiplodia theobromae. Setiap jamur ini dapat dibedakan berdasarkan bentuk makroskopisnya seperti warna dan berdasarkan bentuk makroskopisnya. Jamur-jamur ini juga dapat bersifat tular benih (seed born) yang apabila benih yang sudah terserang ditanaman maka benih yang tumbuh tersebut berkompetensi untuk terserang dan juga bisa menjadi sumber inokulum dilapangan.
Guna mengatasi permasalahan yang timbul dilapangan akibat jamur yang bersifat seed born ini, maka perlu dilakukan penyeleksian untuk benih yang akan di tanam. Penyeleksian itu dapat dilakukan dengan menggunakan benih yang berasal dari tanaman induk yang sehat agar perkembangan penyakit dilapangan dapat dikurangi.
B.     Saran
Banyak manfaat yang didapat dari praktikum ini, diantaranya kita bisa mengenal jamur yang bersifat seed born baik itu bentuk makroskopis ataupun bentuk mikroskopisnya. Kita juga dapat mengetahui gejala yang ditimbulkan dilapangan. Oleh sebab itu, untuk praktikan pathologi benih berikutnya diharapkan agar dapat menjalani praktikum ini dengan serius.
Kendala yang dirasakan selama praktikum ini adalah kelas yang terlalu padat karena menyebabka praktikum berjalan tidak kondusif. Diharapakan untuk paraktikum selanjutnya kendala ini tidak terulang lagi.


LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM
PATHOLOGI BENIH

OLEH
KELOMPOK II


NOVIA YENDRITA
MARINA FRANSISCA
RIKI ADRIYA
QORY SYUHADA
HARZUKI
HANRI I SIMATUPANG
SRI DIANA DEWI. Y
DEDI HARDI
ABDUL AZIS TOHARI
DAVID ABURA
FITRIA YULIANI
SUPRIANGGA
M. TEGUH YULIANTO

Unand
Unand,Unand,Unand,Unand
 







FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
2010